Keadilan

Keadilan bukan Masalah Rasa dalam Hati

Bukan yang congkak,bukan yang sombong
yang disayangi handai dan tolan.
Anak-anak yang tak pernah bohong,
rajin bekerja, peramah dan sopan.

lagu anak-anak

^_^

Ketika si rosa pergi untuk melakukan KKN di sebuah desa di Garut, tiba-tiba saja mama rosa merasa ada sesuatu yang aneh dalam dirinya. Dia merasa sangat kehilangan putrinya yang akan pergi selama dua bulan itu. Sebuah kesedihan yang merayap dalam hati yang berakar pada rasa sayang pada anak perempuan sulungnya itu.

Anehnya mama rosa tidak merasa kehilangan ketika tahun kemarin adik perempuan rosa pergi juga selama 2 bulan untuk magang di sebuah perusahaan di Surabaya. Sebenarnya bukan tidak merasa kehilangan, tetapi hanya ada sedikit rasa sedih saat si adik pergi. Akibatnya mama rosa menganggap dirinya diam-diam lebih menyayangi rosa dibanding adiknya. Dan itu membuatnya merasa bersalah karena telah memperlakukan kedua anaknya dengan cara berbeda. Mama rosa merasa dirinya bukanlah ibu yang adil!.
^_^

Menurut mama rosa dan mungkin juga banyak orang lainnya — keadilan bukan hanya hal-hal fisik tetapi juga meliputi soal rasa dalam hati. Benarkah tuntutan keadilan juga termasuk dalam soal rasa sayang dalam hati?. Sebelum menjawab pertanyaan itu perlu terlebih dahulu disadari bahwa hati tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia. Hati bisa berjalan kesana-kemari membolak-balik tanpa sepenuhnya berada dalam kendali manusia. Demikian juga dengan rasa suka dan sayang dalam hati.

Seorang hakim tidak dituntut untuk menyukai dua pihak yang bersengketa dengan rasa suka yang sama. Dia bisa saja lebih menyukai salah satu pihak karena tutur katanya lebih sopan atau lebih cocok dengan kepribadian si hakim. Namun si hakim dituntut memperlakukan kedua belah pihak dengan sama. Perlakuan yang adil terhadap bukti-bukti yang mereka ajukan. Perlakuan yang sama dalam kesempatan untuk membela diri dan mengajukan keberatan atas tindakan lawannya. Pada intinya perlakuan fisik harus sama, sedang soal hati bukanlah urusan pengadilan.

Demikian juga dengan seorang ibu terhadap anak-anaknya. Dia tidak dituntut untuk menyayangi semua anaknya dengan cinta yang sama persis. Sedikit banyak rasa itu dipengaruhi oleh kelakuan si anak. Anak yang nakal dan bandel mungkin akan mendapat rasa sayang yang lebih sedikit dibanding anak yang baik. Anak yang rajin bisa saja mendapat lebih banyak rasa sayang dibanding anak pemalas.
Namun orangtua harus memperlakukan seluruh anggota keluarganya dengan adil. Misalnya soal pakaian, kamar tidur, uang saku dan fasilitas sekolah haruslah sederajad. Demikian juga dalam hal perhatian terhadap si anak, pengembangan kepribadian anak, pembagian tugas rumah tangga dan hukuman bila seorang anak melakukan kesalahan haruslah sama. Pada intinya Ibu yang adil, ayah yang adil, suami yang adil dan istri yang adil adalah istilah untuk kesamaan perlakuan fisik yang terukur dan bukan masalah rasa dalam hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: